785 views

Puja Mandala

BALI, KOMPAS.com–Di tengah konflik yang mengambinghitamkan agama di sejumlah daerah di Tanah Air, Bali bisa menjadi panutan dengan keberadaan komplek peribadatan Puja Mandala di Nusa Dua.

Dengan keberagaman dan interaksi antarumat dari lima agama yang diakui di Indonesia, Puja Mandala menjadi cermin bahwa tidak seharusnya agama menjadi tameng demi kepentingan tertentu.

Di komplek peribadatan yang namanya diambil dari Bahasa Sansekerta, penyembahan (Puja) dan lingkaran (Mandala), terdapat lima rumah ibadat yang letaknya berdampingan mulai dari masjid, gereja Katolik, vihara, gereja Protestan dan pura.

Dengan lokasi yang berada di kawasan resor elit Nusa Dua, Bali, Puja Mandala berdiri sejak 1994 atas prakarsa Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Joop Ave, yang menjabat pada masa orde baru pimpinan Presiden Soeharto.

Awalnya, komplek peribadatan tersebut dibangun untuk memfasilitasi masyarakat di sekitar Nusa Dua dalam bersembayang. Namun seiring berjalannya waktu, komplek peribadatan itu memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berlibur di pulau dengan mayoritas penduduknya beragama Hindu.

Hingga kemudian, pada 1997, secara bertahap lima rumah ibadat di Puja Mandala diresmikan oleh Menteri Agama Tarmidzi Taher, dengan peresmian pertama adalah Masjid Ibnu Batutah, Gereja Katolik Bunda Maria Segala Bangsa, dan Gereja Protestan Bukit Doa. Enam tahun kemudian, Vihara Budhina Guna diresmikan dan disusul oleh Pura Jagad Nata pada 2005.

Keberadaan lima rumah ibadat yang beragam dalam satu komplek itu tentu saja tidak selamanya tanpa kendala dan hambatan, tidak ada kehidupan yang terjadi tanpa masalah.

Namun masalah tersebut dapat diatasi dengan adanya komunikasi dan saling pengertian antara satu sama lain, demikian yang terjadi di antara umat beragama di sana.

Tidak jarang terdengar suara adzan terdengar ketika misa di Gereja Katolik Bunda Maria Segala Bangsa atau kebaktian di Gereja Bukit Doa sedang berlangsung.

Pastur Kepala Gereja Bunda Maria Segala Bangsa Evensius Dewantoro, Pr. mengatakan “bentrok” jadwal peribadatan memang tidak bisa dihindari di Puja Mandala, namun hal itu hingga saat ini masih dapat diatasi dengan diskusi.

“Masalah yang timbul biasanya adalah mengenai tempat parkir karena lahan parkir di komplek ini terbatas sementara umat yang beribadat semakin banyak, sehingga kami harus bisa berunding dan membagi jadwal agar tidak berbarengan,” kata pria yang akrab disapa Romo Venus itu.

Selain itu, upacara keagamaan yang bisa terjadi di hari yang sama juga sering terjadi di komplek Puja Mandala, seperti halnya perayaan Jumat Agung umat Katolik yang bersamaan dengan ibadah Shalat Jumat umat Islam.

Ketika upacara satu agama berbenturan dengan agama lain, maka para pemimpin tiap-tiap rumah ibadat akan mengatur jadwal agar semuanya dapat berjalan beriringan dan tetap saling menghargai antaragama.

“Kami memiliki sebuah paguyuban yang dipimpin oleh seorang lurah. Setiap akan ada perayaan atau upacara keagamaan, kami selalu berkumpul dan berdiskusi,” kata Romo Venus.

Selain itu, ketika lebih dari 90 persen masyarakat Bali merayakan Nyepi, pelaksanaan ibadah Shalat Jumat atau pun misa tetap digelar dengan suasana khidmat da tidak mengganggu umat Hindu lain.

Dengan adanya kehidupan beragama demikian, Puja Mandala menjadi satu ciri khas kelompok masyarkat sosial yang memandang semua agama adalah jalan yang sama untuk menuju pada Tuhan, serta tidak ada anggapan bahwa hanya satu agama tertentu adalah yang paling benar.

Kehidupan Sosial

Balidwipa atau dikenal dengan Bali adalah pulau bagian dari Kepulauan Sunda Kecil seluas 5.634 kilometer persegi. Dari total populasi sekira empat juta orang, Pulau Bali dihuni oleh sebagian besar suku Bali (89 persen), suku Jawa (tujuh persen) dan suku Madura (satu persen).

Mereka semua tersebar di delapan kabupaten, Jembrana, Tabanan, Badung, Gianyar, Bangli, Klungkung, Karangasem, dan Buleleng, dengan persentase masyarakat beragama Hindu sebesar 91 persen dan Islam sebanyak 5,5 persen, sementara sisanya beragama Katolik, Protestan dan Budha.

Kebudayaan Bali mendapat pengaruh yang kuat dari India karena setelah berakhirnya jaman prasejarah, ajaran Hindu dan tulisan Sansekerta mulai muncul di pulau tersebut.

Agama Islam mulai diajarkan di Bali pada abad ke-14 selama masa kerajaan Klungkung, kerajaan terbesar di Bali dibawah kekuasaan Raja Dalem Waturenggong.

Pada saat itu, raja dan warga Klungkung adalah pengikut Hindu yang bersahabat dengan Raja Majapahit dari Jawa Timur. Ketika Raja Klungkung kembali dari mengunjungi Raja Majapahit, dibawalah sekelompok pasukan beragama Islam dari Kerajaan Majapahit yang enggan kembali ke Pulau Jawa.

Karena kesetiaan para prajurit itu, Raja Klungkung kemudian menghadiahkan sebuah wilayah, yang disebut Desa Gelgel, kepada mereka. Sejak saat itu, prajurit tersebut menetap di Bali dan menikah dengan warga di sana.

Perkembangan kehidupan populasi di Bali mendapat pengaruh kuat dari sektor pariwisata dan pendatang dari Pulau Jawa. Hal itu juga berpengaruh pada peningkatan umat Islam di Bali.

Bahkan di Kabupaten Jembrana terdapat sebuah desa yang masyarakatnya sebagian besar beragama Muslim. Warga Islam di Jembrana sudah ada sejak dulu.

Sementara itu, penduduk di Denpasar mayoritas adalah pendatang dari Pulau Jawa yang tinggal dan berbaur dengan kebudayaan dan masyarakat asli Bali.

Selain warga Islam di Bali, kedatangan agama Kristen Protestan di Pulau tersebut muncul pada 11 November 1931, ketika 12 orang dibaptis di Sungai Yeh Poh, Kabupaten Badung.

Peristiwa pembaptisan tersebut kemudian diakui sebagai sebuah kebangkitan gereja di oleh Pemerintah Bali pada Agustus 1949.

Perkembangan Gereja Kristen di Bali juga semakin terasa dengan adanya 13.113 jemaat yang terkelompokkan dalam 3.606 kepala keluarga.

Keberagaman agama di Bali hingga saat ini tetap terbungkus dalam satu keharmonisan yang selalu dijaga demi kenyamanan kehidupan bersama.

Pluralisme di Bali itu juga dipamerkan kepada sejumlah perwakilan parlemen dari 17 negara ketika mereka menggelar dialog antaragama tingkat internasional di Nusa Dua, pada 21 – 24 November.

Kepada seluruh anggota parlemen dari Rusia, Australia, Bosnia Herzegovina, Austria, Turki, Mesir, Republik Chad, Kamboja, Brunei Darussalam, Laos, Moroko, Myanmar, Arab Saudi, Tunisia, Thailand dan Uganda, Ketua DPR Marzuki Alie mengatakan bahwa keberadaan Puja Mandala diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi masyarakat internasional.

Meskipun perbedaan agama dan keyakinan tidak dapat dihindari, namun itu tidak bisa dijadikan alasan untuk melakukan pembenaran terhadap opini-opini demi kepentingan kelompok tertentu.

Sumber :ANT
Editor :Jodhi Yudono

http://oase.kompas.com/read/2012/11/26/09274935/Puja.Mandala.Cermin.Keharmonisan.Pluralisme.Bali?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp

thanks / ardhi@tentangbali.com
SHARE if you think it’s important

online hotel reservation :
http://ecommerce.tentangbali.com/

20121126-110409.jpg

20121126-110418.jpg

20121126-110424.jpg

20121126-110431.jpg

20121126-110437.jpg

20121126-110445.jpg

Share and Enjoy:
  • Facebook
  • Twitter
  • LinkedIn

artikel menarik lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>